Apa yang Bisa Diajarkan Organisme Bersel Tunggal tentang Kota Kita?
Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa organisme mikroskopis tanpa otak bisa membantu manusia merancang kota. Namun itulah yang terjadi dengan slime mold, organisme bersel tunggal yang kini dijuluki sebagai pencipta “kota jamur lendir” atau fungal cities.
Beberapa ilmuwan, insinyur, dan desainer di Jepang pernah memanfaatkan slime mold untuk mempelajari jalur paling efisien dalam sistem transportasi, termasuk saat merancang jaringan kereta Tokyo. Meskipun tidak memiliki otak, organisme ini mampu menemukan jalur terbaik untuk bertahan hidup, sebuah kemampuan yang justru sangat relevan dengan tantangan perkotaan modern.
Secara ilmiah dikenal sebagai Physarum polycephalum, slime mold bukan tumbuhan, hewan, maupun jamur. Ia adalah organisme bersel tunggal yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
Saat mencari makanan, slime mold akan menyebarkan struktur mirip tentakel ke berbagai arah. Jalur yang paling efisien akan diperkuat, sementara jalur yang kurang efektif ditinggalkan. Proses ini menghasilkan jaringan optimal yang menyeimbangkan efisiensi dan ketahanan, dua hal krusial dalam desain transportasi dan infrastruktur.
Manusia telah membangun kota selama sekitar 6.000 tahun, tetapi slime mold telah berevolusi di Bumi selama lebih dari 600 juta tahun. Dalam rentang waktu yang sangat panjang itu, alam telah “melatih” organisme ini untuk mengelola sumber daya secara efisien dan adaptif.
Terinspirasi oleh kemampuan tersebut, sebuah startup bernama Mireta Urban Dynamics berupaya menerjemahkan kekuatan biologis slime mold ke dalam bentuk algoritma komputer. Tujuannya ambisius: membantu kota-kota di seluruh dunia mengurangi kemacetan, mempercepat waktu tempuh, dan meningkatkan ketahanan terhadap gangguan akibat perubahan iklim.
Bagaimana Cara Kerja Slime Mold Menginspirasi Algoritma Kota?
Algoritma Mireta meniru cara slime mold mendistribusikan sumber daya melalui jaringan bercabang. Organisme ini akan:
- menjelajah ke berbagai arah secara bersamaan,
- memperkuat jalur yang paling efisien, dan
- meninggalkan jalur yang tidak produktif.
- menghubungkan stasiun kereta bawah tanah,
- merancang jalur sepeda, dan bahkan
- mengoptimalkan jalur produksi di pabrik.
Dengan proyeksi bahwa sekitar 60% populasi dunia akan tinggal di kota pada tahun 2030, kota-kota dituntut menyediakan layanan vital di tengah pertumbuhan penduduk, infrastruktur yang menua, serta cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Perusahaan Mireta percaya bahwa solusi yang telah diuji oleh alam selama jutaan tahun dapat membantu menciptakan sistem kota yang lebih adaptif dan tangguh.
Dari Peta Tokyo hingga Algoritma Digital
Pada tahun 2010, peneliti dari Universitas Hokkaido melakukan eksperimen terkenal: mereka meletakkan jamur lendir ini di atas peta jaringan kereta Tokyo, dengan serpihan gandum sebagai penanda stasiun utama. Awalnya organisme tersebut menyebar ke seluruh peta, namun beberapa hari kemudian ia menyederhanakan jaringannya, menyisakan jalur paling efisien yang ternyata sangat mirip dengan jaringan kereta Tokyo sesungguhnya.
Sejak saat itu, slime mold digunakan untuk memecahkan labirin, merancang jaringan jalan, bahkan membantu pemodelan struktur kosmik. Namun sebagian besar eksperimen tersebut masih terbatas di laboratorium.
Berbeda dari pendekatan sebelumnya yang menggunakan slime mold sungguhan, Mireta mengembangkan metode tanpa organisme hidup. Tim Mireta Urban Dynamics mempelajari perilaku slime mold di laboratorium, mengidentifikasi pola kunci dalam pembentukan jalur, lalu menerjemahkannya menjadi aturan matematis dan algoritmik.
Dengan cara ini, prinsip-prinsip biologis dapat diterapkan pada masalah perkotaan berskala besar tanpa harus mencetak peta fisik atau menumbuhkan organisme.
