Makanan Ultra-Proses Merusak Fokus Anda, Bahkan Jika Pola Makan Anda Sudah Sehat
Hasilnya, kenaikan kecil pada asupan makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) setiap hari sudah cukup untuk menimbulkan penurunan rentang perhatian yang terukur — bahkan pada orang yang secara umum makan sehat.
Penulis utama studi, Dr Barbara Cardoso, dari Department of Nutrition, Dietetics and Food serta Victorian Heart Institute, Monash University, menyebut temuan ini mempertegas kaitan antara produk pangan hasil olahan industri dan kemunduran fungsi kognitif.
Sebenarnya apa saja sih ultra-processed foods ini? Secara industrial, makanan ultra processed foods umumnya ditambah zat-zat tambahan additives dan jenis-jenis komponen artifisial lainnya. Contoh yang paling sering ada ialah (a) bahan pengawet, (b) bahan penguat rasa, dan (c) pemanis buatan.
Menurut Dr Cardoso, setiap kenaikan 10 persen konsumsi makanan ultra-proses diikuti penurunan yang jelas dan terukur pada kemampuan seseorang memusatkan perhatian. Secara klinis, hal itu tampak sebagai skor yang konsisten lebih rendah pada tes kognitif baku yang mengukur atensi visual dan kecepatan memproses informasi.
Kudapan yang umumnya sering dimakan juga contoh realistis. Pengurangan jenis kudapan ini dapat mengurangi resiko tersebut.
Para peserta studi rata-rata memperoleh sekitar 41 persen energi hariannya dari UPF — angka yang hampir sama dengan rata-rata nasional Australia, yaitu 42 persen.
- Minuman bersoda dan minuman manis kemasan.
- Camilan asin kemasan seperti keripik dan snack ekstrusi.
- Makanan siap saji dan ready-made meals.
- Pada dasarnya, semua yang bukan bahan pangan segar dan utuh.
Dampak negatif UPF tetap muncul terlepas dari kualitas pola makan seseorang secara keseluruhan — termasuk pada mereka yang menjalani diet Mediterania yang tergolong sehat. Karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa tingkat pemrosesan makanan itu sendiri memainkan peran penting.
Keberadaan zat aditif tersebut, kata Dr Cardoso, menunjukkan bahwa hubungan antara pola makan dan fungsi kognitif tidak berhenti pada soal kekurangan asupan makanan sehat, melainkan mengarah pada mekanisme yang terkait dengan derajat pemrosesan pangan.
Konsumsi UPF yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya faktor risiko demensia, termasuk kondisi seperti tekanan darah tinggi dan obesitas — dua hal yang sebenarnya dapat dikelola secara aktif untuk melindungi otak.
Meski penelitian ini tidak menemukan kaitan langsung antara UPF dan gangguan daya ingat, rentang perhatian merupakan fondasi bagi banyak fungsi otak penting lainnya, seperti kemampuan belajar dan memecahkan masalah.
Meski demikian, faktor risiko yang menyertainya — seperti tekanan darah tinggi dan obesitas — merupakan kondisi yang dapat dikelola, sehingga mengurangi porsi makanan ultra-proses tetap menjadi langkah yang masuk akal untuk menjaga kesehatan otak.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr Barbara Cardoso bersama Dr Lisa Bransby, Hannah Cummins, Profesor Yen Ying Lim, dan Xinyi Yuan dari Monash University; Dr Euridice Martinez Steele dari University of São Paulo; serta Dr Barbara Brayner dan Dr Priscila Machado dari Deakin University.
Data yang digunakan berasal dari Healthy Brain Project, yang antara lain didanai oleh National Health and Medical Research Council (NHMRC), Alzheimer's Association, dan Dementia Australia Research Foundation.
Baca Makalah (PDF) → Tautan mengarah ke laman resmi Wiley Online Library.
