Tak Hanya Mematikan, Malaria Ternyata Bisa Berdampak pada Otak Anak Hingga Bertahun-Tahun

Malaria Mungkin Meninggalkan Dampak Jangka Panjang pada Otak Anak, Studi Ungkap Temuan Penting


Selama ini malaria lebih dikenal sebagai penyakit infeksi yang menyerang darah dan dapat berakibat fatal jika tidak ditangani. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya mungkin jauh lebih panjang daripada yang selama ini diperkirakan.

Sebuah studi yang mengikuti hampir seribu anak di Uganda hingga 15 tahun setelah infeksi menemukan bahwa anak-anak yang selamat dari malaria berat menunjukkan performa yang lebih rendah pada beberapa aspek kognitif, khususnya kemampuan berpikir umum dan prestasi matematika.

Temuan ini menjadi perhatian penting karena malaria masih menjadi masalah kesehatan global. Setiap tahun, lebih dari 250 juta kasus malaria dilaporkan di dunia dengan sekitar 600 ribu kematian, sebagian besar terjadi pada anak-anak di Afrika. Diperkirakan lebih dari satu juta anak mengalami bentuk malaria berat setiap tahunnya.

Selama bertahun-tahun terdapat anggapan bahwa anak yang berhasil melewati malaria berat dapat pulih sepenuhnya tanpa dampak jangka panjang. Namun semakin banyak bukti mulai menunjukkan kemungkinan adanya efek neurologis yang bertahan lama, bahkan setelah pemulihan klinis terlihat baik.

Indonesia sendiri termasuk negara dengan wilayah endemis malaria. Oleh karena itu, hasil penelitian seperti ini memiliki relevansi penting, tidak hanya dalam bidang kesehatan, tetapi juga pendidikan dan pembangunan sosial.

Malaria Serebral dan Anemia Berat Menjadi Sorotan

Penelitian yang dipimpin tim dari Makerere University Hospital bersama peneliti dari Indiana University sebelumnya telah menunjukkan bahwa anak-anak dengan malaria serebral memiliki skor kognitif lebih rendah hingga dua tahun setelah infeksi.

Malaria serebral merupakan bentuk malaria berat ketika sel darah yang terinfeksi parasit menyumbat pembuluh darah menuju otak. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan neurologis serius bahkan koma.

Menariknya, penelitian lanjutan menemukan bahwa anak-anak yang mengalami anemia berat akibat malaria juga menunjukkan defisit serupa, meskipun mereka tidak menunjukkan gejala neurologis yang jelas.

Untuk memahami dampak jangka panjang, tim peneliti kembali melacak peserta studi sebelumnya pada tahun 2020. Dari sekitar 1.400 anak dalam dua kohort awal, lebih dari 75% berhasil ditemukan kembali meskipun banyak yang telah berpindah tempat tinggal atau mengganti nomor telepon.

Sebanyak 939 peserta akhirnya mengikuti evaluasi lanjutan yang mencakup tes membaca, matematika, perhatian, dan kemampuan kognitif umum. Pengujian dilakukan rata-rata 8,4 tahun setelah penelitian awal, dengan rentang waktu hingga 15 tahun.

Penurunan Kognitif yang Bertahan Lama

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan riwayat malaria serebral maupun anemia berat akibat malaria memiliki skor kemampuan kognitif umum dan matematika yang lebih rendah dibanding kelompok yang tidak mengalami malaria berat.

Sebaliknya, kemampuan membaca dan perhatian tidak menunjukkan perbedaan signifikan.

Yang menarik, penurunan ini diperkirakan setara dengan kehilangan sekitar 4–7 poin IQ. Sekilas angka tersebut tampak kecil. Namun jika dikaitkan dengan jutaan kasus malaria berat setiap tahun, dampaknya pada tingkat populasi menjadi sangat besar.

Penelitian ini memang belum dapat memastikan secara mutlak bahwa malaria menjadi penyebab tunggal penurunan tersebut. Faktor lain mungkin turut berperan. Namun korelasi hasil tes dari masa awal pemulihan hingga bertahun-tahun kemudian menunjukkan pola yang cukup konsisten.

Implikasi untuk Pencegahan Malaria

Hingga kini mekanisme pasti yang menyebabkan dampak jangka panjang tersebut masih menjadi teka-teki. Pada malaria serebral, cedera otak akut diduga menjadi penyebab utama. Namun pada kasus anemia berat, mekanismenya masih belum sepenuhnya dipahami.

Temuan ini semakin memperkuat pentingnya upaya pencegahan malaria, termasuk penggunaan kelambu antinyamuk, pengendalian vektor, serta pemanfaatan vaksin malaria yang mulai diperkenalkan.

Keberhasilan menyelamatkan nyawa anak dari malaria memang sangat penting. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa upaya tersebut mungkin perlu diperluas, tidak hanya untuk mencegah kematian, tetapi juga untuk melindungi perkembangan kognitif dan masa depan anak-anak.

*Referensi:

 Long-Term Cognitive Ability and Academic Achievement After Childhood Severe Malaria

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak