Baterai Mobil Listrik Ternyata Bisa Lebih Awet dari Mobilnya, EV Bekas Jadi Sorotan
Selama bertahun-tahun, mobil listrik atau electric vehicle (EV) sering menghadapi satu stigma yang sama: baterainya dianggap cepat menurun performanya sehingga konsumen lebih memilih membeli unit baru dibanding mobil bekas. Persepsi ini turut memengaruhi nilai jual kembali EV yang cenderung turun lebih cepat dibanding kendaraan berbahan bakar bensin atau diesel.
Padahal, baterai merupakan komponen termahal dalam sebuah mobil listrik. Meskipun biaya produksinya kini turun drastis dibanding beberapa dekade lalu, baterai masih menyumbang sekitar sepertiga harga kendaraan listrik baru. Kekhawatiran terhadap umur baterai inilah yang selama ini membuat sebagian calon pembeli ragu memasuki pasar EV bekas.
Namun, perkembangan terbaru mulai mengubah pandangan tersebut.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa baterai mobil listrik yang digunakan dan dirawat dengan baik berpotensi memiliki umur lebih panjang dibanding usia operasional mobil itu sendiri. Temuan ini membuka perspektif baru bahwa mobil listrik bekas mungkin jauh lebih bernilai daripada yang selama ini diperkirakan.
Perubahan persepsi ini muncul di saat pasar EV juga mengalami perkembangan menarik. Di sejumlah negara, terutama Inggris, harga rata-rata mobil listrik baru kini mulai berada di bawah harga rata-rata mobil berbahan bakar bensin. Kondisi ini menunjukkan bahwa hambatan ekonomi untuk beralih ke kendaraan listrik mulai berkurang.
Namun daya tarik EV tidak berhenti pada harga dan umur baterai saja.
Mobil Listrik Bisa Menjadi “Penyimpan Energi”
Sebagian besar mobil listrik ternyata menghabiskan waktunya dalam keadaan terparkir dan terhubung ke pengisian daya, bahkan hingga sekitar 23 jam per hari. Kondisi ini membuka peluang baru: menjadikan baterai mobil sebagai tempat penyimpanan listrik sementara bagi jaringan energi.
Konsep ini dikenal sebagai integrasi kendaraan dengan jaringan listrik (vehicle-to-grid). Ketika jaringan memiliki kelebihan pasokan listrik, energi dapat disimpan sementara di baterai kendaraan. Saat kebutuhan meningkat, listrik tersebut dapat dikembalikan ke jaringan.
Menariknya, operator jaringan listrik berpotensi memberikan kompensasi kepada pemilik kendaraan yang ikut berpartisipasi. Uji coba di Amerika Serikat mulai menunjukkan gambaran bahwa skema ini dapat menghasilkan pendapatan tambahan yang cukup signifikan bagi pengguna mobil listrik.
Jika model ini berkembang luas, mobil listrik tidak lagi hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga aset energi.
Faktor Ekonomi Bisa Mempercepat Transisi Hijau
Selama ini transisi menuju energi bersih sering dikaitkan dengan isu perubahan iklim. Namun dalam praktiknya, faktor ekonomi mungkin menjadi pendorong yang jauh lebih kuat.
Kenaikan harga energi global dan ketidakstabilan pasokan bahan bakar akibat konflik geopolitik membuat biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil semakin tinggi. Dalam kondisi seperti ini, mobil listrik menjadi semakin kompetitif.
Meskipun industri EV sempat mengalami perlambatan pertumbuhan penjualan, perkembangan teknologi baterai, penurunan harga kendaraan, serta potensi pendapatan dari sistem energi membuka peluang baru bagi industri ini.
Mobil listrik mungkin tidak lagi hanya dipandang sebagai simbol kendaraan masa depan, tetapi sebagai pilihan ekonomi yang semakin masuk akal.
