Benarkah Alzheimer Tidak Bisa Disembuhkan? Studi Ini Menantang Keyakinan Lama


Halo Sobat Inspirasi!

Selama puluhan tahun, Alzheimer’s disease (AD) dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat dipulihkan. Sekali fungsi otak menurun, maka penurunannya dianggap permanen.

Namun, sebuah studi terbaru memberikan bukti awal (proof-of-principle) bahwa bahkan Alzheimer stadium lanjut mungkin dapat dipulihkan secara terapeutik.

Ya, dapat dipulihkan.

Apa yang ditemukan peneliti?

Penelitian dilakukan menggunakan dua model tikus Alzheimer yang banyak digunakan dalam riset, yaitu 5xFAD dan PS19.

Para peneliti menguji senyawa bernama P7C3-A20, yang bekerja dengan cara memulihkan kadar molekul penting di otak yang disebut NAD⁺ (nicotinamide adenine dinucleotide) — molekul kunci dalam produksi energi sel dan sistem perbaikan seluler.

Ketika keseimbangan NAD⁺ dipulihkan, hasilnya sangat mengejutkan:
  • Fosforilasi pada p-tau menurun
  • Kerusakan pada blood-brain barrier membaik
  • Stres oksidatif berkurang
  • Kerusakan DNA menurun
  • Neuroinflamasi berkurang
  • Neurogenesis di hipokampus meningkat
  • Plastisitas sinaps membaik
  • Fungsi kognitif pulih sepenuhnya pada tikus
Lebih menarik lagi, kadar p-tau217 di plasma yang merupakan biomarker klinis Alzheimer juga menurun. Dari hasil penelitian ini justru terlihat bahwa NAD⁺ merupakan inti masalah dari ini semua. Pada tikus muda dengan usia 2 bulan, dimana muncul fase pra-gejala, kadar NAD⁺ di otak justru masih normal. Namun, seiring progresivitas penyakit, ditemui:
  • Pada usia 6 bulan → NAD⁺ turun sekitar 30%
  • Pada usia 12 bulan → NAD⁺ turun hingga 45%

Tingkat keparahan patologi berkorelasi langsung dengan gangguan homeostasis NAD⁺. Temuan serupa juga terlihat pada manusia, di mana (1) Penderita Alzheimer berat menunjukkan gangguan regulasi NAD⁺, dan menariknya (2) individu dengan neuropatologi Alzheimer tetapi tanpa demensia (NDAN) menunjukkan pola ekspresi gen yang mengindikasikan keseimbangan NAD⁺ tetap terjaga. Artinya, menjaga homeostasis NAD⁺ mungkin menjadi ketahanan (resilience) otak.

Mengapa studi ini bisa mengubah paradigma?

Sebagian besar terapi Alzheimer menargetkan satu faktor saja, seperti amyloid-beta atau tau. Pendekatan ini berbeda, dengan memulihkan NAD⁺, terapi ini tidak hanya menargetkan satu jalur, tetapi mengatasi krisis energi dasar pada sel otak. Bayangkan NAD⁺ sebagai “mata uang metabolik” otak, maka:
  • Ketika NAD⁺ menurun, sistem perbaikan sel gagal.
  • Ketika NAD⁺ dipulihkan, berbagai jalur reparatif kembali aktif secara simultan.
Yang penting: P7C3-A20 mengembalikan NAD⁺ ke tingkat normal fisiologis, bukan berlebihan, sehingga berpotensi memiliki profil keamanan yang lebih baik. Implikasi besarnya, justru studi ini menantang pandangan lama bahwa Alzheimer bersifat intrinsik tidak dapat dipulihkan.

Jika hasil ini dapat dikonfirmasi pada manusia, maka pemulihan homeostasis NAD⁺ dapat menjadi pendekatan terapeutik yang benar-benar transformatif dalam penanganan neurodegenerasi.
 
 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak