Halo Sobat Inspirasi!
Selama puluhan tahun, Alzheimer’s disease (AD) dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat dipulihkan. Sekali fungsi otak menurun, maka penurunannya dianggap permanen.
Namun, sebuah studi terbaru memberikan bukti awal (proof-of-principle) bahwa bahkan Alzheimer stadium lanjut mungkin dapat dipulihkan secara terapeutik.
Ya, dapat dipulihkan.
Apa yang ditemukan peneliti?
Para peneliti menguji senyawa bernama P7C3-A20, yang bekerja dengan cara memulihkan kadar molekul penting di otak yang disebut NAD⁺ (nicotinamide adenine dinucleotide) — molekul kunci dalam produksi energi sel dan sistem perbaikan seluler.
Ketika keseimbangan NAD⁺ dipulihkan, hasilnya sangat mengejutkan:
- Fosforilasi pada p-tau menurun
- Kerusakan pada blood-brain barrier membaik
- Stres oksidatif berkurang
- Kerusakan DNA menurun
- Neuroinflamasi berkurang
- Neurogenesis di hipokampus meningkat
- Plastisitas sinaps membaik
- Fungsi kognitif pulih sepenuhnya pada tikus
- Pada usia 6 bulan → NAD⁺ turun sekitar 30%
- Pada usia 12 bulan → NAD⁺ turun hingga 45%
Tingkat keparahan patologi berkorelasi langsung dengan gangguan homeostasis NAD⁺. Temuan serupa juga terlihat pada manusia, di mana (1) Penderita Alzheimer berat menunjukkan gangguan regulasi NAD⁺, dan menariknya (2) individu dengan neuropatologi Alzheimer tetapi tanpa demensia (NDAN) menunjukkan pola ekspresi gen yang mengindikasikan keseimbangan NAD⁺ tetap terjaga. Artinya, menjaga homeostasis NAD⁺ mungkin menjadi ketahanan (resilience) otak.
Mengapa studi ini bisa mengubah paradigma?
- Ketika NAD⁺ menurun, sistem perbaikan sel gagal.
- Ketika NAD⁺ dipulihkan, berbagai jalur reparatif kembali aktif secara simultan.
Jika hasil ini dapat dikonfirmasi pada manusia, maka pemulihan homeostasis NAD⁺ dapat menjadi pendekatan terapeutik yang benar-benar transformatif dalam penanganan neurodegenerasi.
